Perihku makin dalam, melebihi segala yang dalam
Hingga pagi itu kukira aku tidak kuat menanggung luka yang berat. Aku marah lalu meludah memuncratkan menyembruat.
Baiklah, aku maafkan kamu selanjutnya akan kusikapi kamu sebagai tubuh dan jiwa yang utuh. Aku harap kou segera akan sembuh dan kembali pada kesetiaanmu.
Ketabahan menyangga langit yang kian rapu.
( Setelah banyak membaca sajak dari Acep Iwan Saidi, aku bisa mendeskripsikan bagaimana luka dan emosi saling berkorelasi positif )
Senin, Juni 09, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar